Sawise tutug anggone meguru ing Banyubiru, Jaka Tingkir Sapendherek bali menyang Kraton Demak Bintara. Lakune mengalor kanthi numpak gethek manut ilining Bengawan Solo. Manut crita babad, satekan ing Kedhung Srengenge, Jaka Tingkir perang tanding klawan tetungguling baya.
Jroning perang kasebut Jaka Tingkir menang, lan minangka telukan baya cacah 40 kadhawuhan nyangga gethekke saengga ngitir tanpa disatangi. Nanging nalika tekan ing Desa Butuh, ilining bengawan menggok mengetan. Sabanjure putrane Ki Kebo Kenanga saka Pengging iki mutusake laku menyang Demak kanthi dalan dharat.
Jroning perang kasebut Jaka Tingkir menang, lan minangka telukan baya cacah 40 kadhawuhan nyangga gethekke saengga ngitir tanpa disatangi. Nanging nalika tekan ing Desa Butuh, ilining bengawan menggok mengetan. Sabanjure putrane Ki Kebo Kenanga saka Pengging iki mutusake laku menyang Demak kanthi dalan dharat.
Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Mayong Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Ayah Raden Ajeng Kartini adalah seorang Asisten Yedono yang berkedudukan di Mayong. Kurang lebih satu tahun setelah R.A.Kartini lahir ayahnya diangkat menjadi Bupati Jepara. Nama ayah R.A.Kartini adalah Raden Mas Adipati Aryo Sosrodiningrat. Raden Ajeng Kartini sempat bersekolah sampai sekolah dasar. Keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi tidak diijinkannya oleh orang tuanya. Sesuai dengan adat yang berlaku pada waktu itu, anak-anak perempuan tidak boleh bersekolah. Anak gadis tidak boleh melanjutkan sekolah dan harus mengalami masa pingitan sampai saatnya untuk menikah. Mereka tidak bebas bergerak, bebeda dengan kaum laki-laki.
Kehidupan kaum wanita pada waktu itu tidak seperti sekarang, wanita sedikit yang memperoleh pendidikan dan bersekolah. Kaum wanita sama sekali harus tunduk kepada kaum laki-laki, karena demikian adatnya. Bila saatnya tiba, dalam usia yang sangat muda sekali ia dikawinkan oleh orang tua mereka. Seperti juga yang terjadi pada diri Raden Ajeng Kartini sendiri setelah bertahun-tahun dipingit, kemudian ia dikawinkan dengan laki-laki yang sama sekali belum dikenalnya. Walaupun R.A.Kartini dipingit, tetapi cita-citanya untuk memajukan kaum wanita tetap dilakukan. Misalnya dengan cara bergaul dengan orang-orang terpelajar, dan gemar membaca buku terutama buku-buku mengenai kemajuan wanita di luar negeri terutama wanita Eropa. Sejak saat itu timbul keinginan untuk berjuang memajukan wanita Indonesia.